Aku ini, bukan orang mudah kau jajah, bukan anak tak diasuh Abah, bukan wanita kau pandang sebelah, bukan senang-senang mengaku kalah.

Aku ini, memang, bukan perajurit atau pahlawan, bukan Hang Tuah atau Raja Sulaiman, bukan pendekar Leftenan Adnan, atau wira negara yang kau pujakan.

Tetapi Aku, anak Melayu abad dua puluh satu, bukan sekadar di kad pengenalan, atau di generasi yang lupa daratan, biar kupulihkan adat resmi padi, biar kuingatkan sejarah tanah ini, tentang mereka kebanggaan Ibu Pertiwi, biar kuceritakan tentang Melayu, atau membacakan karya sastera, biar kulantunkan syair lagu, atau menyusun puisi stanza, biar kutunjuk adab tatasusila, agar perilaku tidak tercemar, aku keturunan Bugis ternama, bukan nak tunjuk unggul atau hebat, aku anak Melayu yang kau hina, masih tegak berdiri kuat,

Ah! kalau kau alpa, kalau kau leka, atau ambil sambil lewa, Akan aku ingatkan kata sang pujangga: biar kau putih tulang, jangan kau putih mata.

SUMAYYAH MUHAMMAD SAIFUL A'DLI

Sangkar Diri

Begitu lama kau kurung tempat ini seperti sangkar tak berpintu dan aku burung peliharaanmu yang tak mampu terbang lagi. Simpanlah dahulu candamu itu aku tidak betah hidup meniru suara-suara merdu yang menipu sayapku tetap tumbuh berganti di angkasa biru duniaku menanti.

Sekian lama kau biarkan tempat ini seperti taman tak berbunga dan aku benih semaianmu yang kau pangkas berganti musim. Lupakan dahulu harum baunya aku tidak rela bertukar warna memikat para pedagang cinta kelopakku tetap mekar berseri di bumi hijau duniaku berbakti.

Cukup lama kau nafikan tempat ini seperti penjara tak berjeriji dan aku pidana tawananmu yang tak menemukan jalan keluar. Pendamkan dulu sangsimu itu aku tidak mampu diam membisu mendengar pujuk rayu yang palsu jiwaku tetap meracik bara di udara bebas diriku bernyala.

HAMED ISMAIL