Setiap kali kau kudekati suara jiwaku sering menyebut namamu dan aku selalu mendakap dadamu walaupun aku bukan sang penyair tapi masih kutarikan seribu tarian tinta masih kumenukang bait-bait kata masih kuberkarya dan bercerita tentang kehidupan, tentang kita.
Kita sebenarnya adalah satu jiwa dalam dua warna kau adalah aku dan aku adalah kau haruskah aku membiarkan cita-citaku terkubur bersamamu jadi pusara yang tidak bernisan? tapi telah kupastikan di sini hubunganmu antara kami akan berakhir dan perpisahan pasti terjadi hanya tembok takdir dan waktu menjadi penentu kerana tiada kami dan tiada anak cucu kami tiadamu puisi.


