Puisi

Share on FacebookShare on TelegramShare on WhatsApp
Purchase this articleDapatkan artikel ini
untuk diterbitkan semula
Premium

Puisi

Jan 4, 2016 | 5:30 AM

Puisi

Share on FacebookShare on TelegramShare on WhatsApp
Purchase this articleDapatkan artikel ini
untuk diterbitkan semula
-

Setiap kali kau kudekati suara jiwaku sering menyebut namamu dan aku selalu mendakap dadamu walaupun aku bukan sang penyair tapi masih kutarikan seribu tarian tinta masih kumenukang bait-bait kata masih kuberkarya dan bercerita tentang kehidupan, tentang kita.

Kita sebenarnya adalah satu jiwa dalam dua warna kau adalah aku dan aku adalah kau haruskah aku membiarkan cita-citaku terkubur bersamamu jadi pusara yang tidak bernisan? tapi telah kupastikan di sini hubunganmu antara kami akan berakhir dan perpisahan pasti terjadi hanya tembok takdir dan waktu menjadi penentu kerana tiada kami dan tiada anak cucu kami tiadamu puisi.

Share on FacebookShare on TelegramShare on WhatsAppPurchase this article
Man IconQuiz LogoUji pengetahuan anda dalam bahasa Melayu
  • undefined-menu-icon
  • undefined-menu-icon

Khidmat pelangganan

6388-3838

Meja Berita

Anda ada maklumat mengenai sesuatu berita menarik?
E-mel: bhnews@sph.com.sg