"LEMBUT sangat."
Matanya melilau ke sana sini. Setiap ceruk diteliti dengan telaten. Di sebalik ketenangan itu, terselindung jiwa yang berkecamuk. Dan setiap nafas yang dihela akan bersulam bisa yang merobek dan memamah dirinya dari dalam. Pak Akub membelek-belek lagi bantal-bantal yang menggunung itu. Kabu-kabu. Bulu itik. Span. Getah magik. Satu-persatu Pak Akub timbang di neraca hati.





