Pada 26 Disember 2004, dunia dikejutkan dengan bencana yang menyebabkan kemusnahan besar-besaran. Gempa dasar laut di Lautan Hindi dekat barat Sumatera, yang paling kuat dalam tempoh 40 tahun, mengakibatkan gelombang maut Tsunami yang mengganas, menghempas dan memulas 11 negara dan mengorbankan lebih 200,000 nyawa. Sebagai mengenang sedekad Tsunami, Berita Harian (BH) mengetengahkan pengalaman wartawan kami yang membuat liputan bencana itu di Aceh dan renungan seorang pegawai badan bantuan kemanusiaan, yang merupakan antara orang pertama menghulurkan bantuan.
Dec 15, 2014 | 6:43 AM
Mengenang sedekad tsunami
HIBA MENGENANG NASIB MANGSA: Semua warga Indonesia tidak kira di mana mereka berada terkesan dengan tragedi yang menimpa Aceh termasuk para pembantu rumah Indonesia yang bekerja di Singapura ini. - Foto-foto SPH -
KEMUSNAHAN SUKAR DIGAMBARKAN: Di Aceh, gelombang tsuami setinggi bangunan empat tingkat memusnahkan segalanya, sejauh mata memandang. - Foto-foto SPH -
PALING DASYAT: Dianggarkan sekitar 280,000 nyawa terkorban dalam tragedi Tsunami pada Disember 2004 yang menjejas 11 negara dari Thailand hingga ke Afrika Timur. - Foto-foto SPH -
UJIAN KEMANUSIAAN: Tragedi tsunami menyatukan warga dunia untuk membantu dengan Singapura antara negara pertama hulurkan bantuan. - Foto-foto SPH -
HIBA MENGENANG NASIB MANGSA: Semua warga Indonesia tidak kira di mana mereka berada terkesan dengan tragedi yang menimpa Aceh termasuk para pembantu rumah Indonesia yang bekerja di Singapura ini. - Foto-foto SPH -
KEMUSNAHAN SUKAR DIGAMBARKAN: Di Aceh, gelombang tsuami setinggi bangunan empat tingkat memusnahkan segalanya, sejauh mata memandang. - Foto-foto SPH -
PALING DASYAT: Dianggarkan sekitar 280,000 nyawa terkorban dalam tragedi Tsunami pada Disember 2004 yang menjejas 11 negara dari Thailand hingga ke Afrika Timur. - Foto-foto SPH -
UJIAN KEMANUSIAAN: Tragedi tsunami menyatukan warga dunia untuk membantu dengan Singapura antara negara pertama hulurkan bantuan. - Foto-foto SPH -
HIBA MENGENANG NASIB MANGSA: Semua warga Indonesia tidak kira di mana mereka berada terkesan dengan tragedi yang menimpa Aceh termasuk para pembantu rumah Indonesia yang bekerja di Singapura ini. - Foto-foto SPH -
WAJAH lapar dan dahaga dapat dilihat tatkala wartawan menaiki salah sebuah pesawat tentera yang mengangkut penduduk keluar dari Banda Aceh untuk dibawa ke Medan selepas gelombang tsunami melanda.
Seorang kanak-kanak dilihat sedang menitiskan air mata ketika berada dalam pesawat yang sesak dengan penduduk.