Bahasa memberiku ruang
untuk duduk,
menghela napas,
dan menyusun ulang diriku
yang tercerai-berai oleh hari.

Saat dunia menutup pintu,
bahasa justru membuka jendela.
Ia membiarkanku melihat ke dalam,
menemukan bagian diriku
yang sempat hilang
karena terlalu sibuk menyenangkan orang lain.

Ikuti topik ini:
Log masuk untuk ikuti
Laporan berkaitan