Bahasa memberiku ruang untuk duduk, menghela napas, dan menyusun ulang diriku yang tercerai-berai oleh hari.
Saat dunia menutup pintu, bahasa justru membuka jendela. Ia membiarkanku melihat ke dalam, menemukan bagian diriku yang sempat hilang karena terlalu sibuk menyenangkan orang lain.





