Angin musim luruh di kota Tokyo bertiup kencang, membawa bersama dedaun momiji yang kemerahan, menari-nari di celah-celah pencakar langit Shinjuku yang kaku.

Dari pejabatnya di tingkat 45 yang berdinding kaca kalis bunyi, Irfan memerhati arus manusia yang bergerak pantas di bawah. Mereka bagaikan koloni semut yang tidak pernah mengenal erti lelah, masing-masing tunduk menghadap peranti di tangan, mengejar masa yang seolah-olah tidak pernah cukup dalam kepantasan teknologi yang menghimpit.

Laporan berkaitan
RedaJul 26, 2026 | 5:30 AM
Cinta Di Penghujung SenjaJul 19, 2026 | 5:30 AM